The Dunning-Kruger Effect

kenapa orang yang paling tidak tahu justru merasa paling ahli

The Dunning-Kruger Effect
I

Pada suatu pagi di tahun 1995, seorang pria bernama McArthur Wheeler merampok dua bank di Pittsburgh, Amerika Serikat. Ia tidak memakai topeng. Ia tidak menyamar. Ia bahkan tersenyum menatap langsung ke arah kamera pengawas saat menodongkan senjatanya. Malam harinya, saat polisi mengetuk pintu rumahnya untuk menangkapnya, Wheeler tampak sangat kebingungan. Dengan wajah tidak percaya, ia bergumam, "Padahal saya sudah pakai jus lemon."

Usut punya usut, Wheeler mengetahui bahwa jus lemon bisa digunakan sebagai invisible ink atau tinta tak terlihat. Lewat logika absurdnya, ia menyimpulkan bahwa jika ia melumuri seluruh wajahnya dengan jus lemon, maka wajahnya tidak akan terekam oleh kamera pengawas. Ia sangat yakin dengan teorinya. Saking yakinnya, ia mempertaruhkan kebebasannya demi sebuah pemahaman sains yang sepenuhnya salah.

Kisah ini mungkin terdengar seperti komedi satir. Namun, mari kita renungkan sejenak. Pernahkah kita bertanya-tanya, dari mana datangnya rasa percaya diri yang begitu besar pada sebuah kebodohan yang fatal? Mengapa orang yang paling tidak mengerti tentang suatu hal, justru sering kali tampil sebagai sosok yang paling yakin?

II

Kejadian jus lemon Wheeler tadi memicu rasa penasaran dua orang psikolog dari Cornell University. Mereka menyadari bahwa fenomena ini sebenarnya ada di mana-mana. Coba ingat-ingat lagi momen saat kita sedang kumpul keluarga atau sekadar nongkrong di kedai kopi. Pasti ada satu orang yang berbicara dengan lantang tentang geopolitik dunia, strategi ekonomi makro, hingga urusan medis, seolah-olah ia adalah pakar dengan gelar profesor. Padahal, kita tahu persis pengetahuan orang tersebut mungkin hanya berasal dari membaca satu atau dua judul artikel di media sosial.

Di era internet saat ini, gejalanya makin parah. Kita rutin melihat orang awam berdebat panas dengan dokter spesialis soal vaksin. Kita melihat orang yang baru sehari bermain saham tiba-tiba merasa pantas menjadi mentor finansial. Mereka tidak sedang berbohong. Mereka juga tidak sedang berpura-pura pintar. Dalam pikiran mereka sendiri, mereka benar-benar merasa ahli.

Ada sebuah ilusi optik di dalam pikiran manusia. Saat kita baru mempelajari secuil informasi, otak kita memproduksi lonjakan hormon dopamin yang membuat kita merasa cerdas luar biasa. Kita merasa sudah melihat gambaran utuhnya. Namun, pertanyaannya sekarang, mengapa otak kita mendesain jebakan semacam ini?

III

Untuk menjawabnya, kita harus masuk ke dalam mesin rumit bernama otak manusia. Otak kita adalah mesin yang benci dengan ketidakpastian. Secara evolusioner, nenek moyang kita bertahan hidup dengan membuat keputusan cepat. Merasa ragu di alam liar sama dengan mati dimangsa. Itulah mengapa otak kita sangat menyukai keyakinan. Keyakinan memberi kita rasa aman.

Namun, di sini letak masalah utamanya. Saat kita tidak memiliki pengetahuan tentang suatu bidang, kita sebenarnya kehilangan dua hal sekaligus. Pertama, kita kehilangan pengetahuan itu sendiri. Kedua, dan ini yang paling berbahaya, kita kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa kita tidak tahu.

Bayangkan kita sedang mengikuti ujian bahasa asing yang sama sekali tidak kita kuasai. Kita menjawab soal secara asal-asalan. Saat keluar ruangan, apakah kita tahu bahwa jawaban kita salah? Tentu tidak. Untuk mengetahui bahwa sebuah jawaban tata bahasa itu salah, kita harus tahu aturan tata bahasa yang benar. Jika kita tidak tahu aturannya, otak kita akan menyimpulkan bahwa kita sudah mengerjakannya dengan baik. Lalu, apa sebutan ilmiah untuk fenomena "kebutaan" ini?

IV

Inilah yang kemudian dirumuskan oleh David Dunning dan Justin Kruger. Temuan mereka pada tahun 1999 melahirkan sebuah konsep psikologi yang kini sangat terkenal: The Dunning-Kruger Effect.

Dunning dan Kruger menguji partisipan dalam hal humor, tata bahasa, dan logika. Hasilnya sangat konsisten dan membuka mata dunia. Partisipan yang mendapat nilai paling jeblok, secara konsisten memprediksi bahwa nilai mereka ada di atas rata-rata. Mereka terkena apa yang dalam dunia psikologi disebut sebagai defisit metacognition (metakognisi). Metakognisi adalah kemampuan kita untuk memikirkan pikiran kita sendiri, atau kemampuan untuk mengevaluasi diri secara objektif.

Orang yang berada dalam pengaruh Dunning-Kruger Effect berdiri di sebuah titik yang sering diejek dengan sebutan Mount Stupid (Puncak Kebodohan). Di titik ini, rasa percaya diri berada di level maksimal, sementara pengetahuan berada di level minimal. Ironisnya, penelitian yang sama juga menemukan hal kebalikannya. Orang-orang yang benar-benar ahli justru sering meremehkan kemampuan mereka. Mereka tahu betapa luas dan rumitnya ilmu tersebut, sehingga mereka merasa masih banyak yang belum mereka kuasai. Semakin banyak kita tahu, semakin kita sadar betapa banyak yang tidak kita ketahui.

V

Membaca tentang Dunning-Kruger Effect mungkin membuat kita tersenyum sinis sambil membayangkan wajah orang-orang menyebalkan yang pernah kita temui. Namun, teman-teman, tujuan ilmu psikologi bukanlah untuk memberi kita senjata untuk menghakimi orang lain. Tujuannya adalah untuk bercermin.

Kenyataan pahit (sekaligus membebaskan) dari sains ini adalah: kita semua pernah menjadi McArthur Wheeler. Kita semua pasti pernah sok tahu di bidang yang tidak kita pahami. Mungkin kita pernah berdebat keras tentang film yang belum kita tonton, atau menghakimi keputusan hidup seseorang tanpa tahu konteks aslinya. Ilusi kompetensi ini adalah kondisi bawaan manusia, bukan penyakit orang bodoh.

Lalu, apa penawarnya? Obat terbaiknya adalah kerendahan hati intelektual (intellectual humility). Mari kita biasakan diri untuk merasa nyaman dengan kalimat "saya tidak tahu" atau "mungkin saya yang salah". Otak kita memang selalu ingin merasa benar, tetapi pertumbuhan sejati hanya terjadi ketika kita berani mengakui bahwa pemahaman kita masih terbatas. Lagipula, tidak ada yang lebih melegakan daripada menyadari bahwa kita tidak harus menjadi ahli dalam segala hal, bukan?